KESEMPATAN KEDUA

 

KESEMPATAN KEDUA

            Pagi yang cerah untuk memulai hari. Hari ini aku putuskan untuk melamar pekerjaan di beberapa sekolah yang jarak tempuhnya kurang dari satu jam dari rumahku. Ini bukan kali pertama aku melamar pekerjaan di sekolah, sebelumnya aku juga pernah melamar pekerjaan ke sekolah yang jaraknya tidak jauh dari kosku di kota.

            Namaku Dzakira, orang-orang memanggilku Ira. Aku adalah mahasiswi pascasarjana matematika semester tiga. Jarak tempuh rumahku dengan kampus kurang lebih dua jam. Dalam semester tiga ini kami kuliah hanya satu hari dalam satu pekan. Karenanya aku kembali ke kos ketika hari kuliah saja, selebihnya aku menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga alias nganggur hehehe.

Hari ini aku melamar pekerjaan di tiga sekolah menengah atas. Sekolah yang pertama ku kunjungi adalah sekolah tempatku menimba ilmu. Entah sudah berapa lama aku tidak berkunjung ke sekolah ini, berharap guru-guruku masih mengingat dan mengenaliku. Setibanya disekolah ternyata guru-guruku masih mengingat nama dan tingkahku semasa sekolah dengan jelas, ah betapa rindunya pada masa itu. Namun sayangnya aku tidak bertemu langsung dengan bapak kepala sekolah karena beliau sedang menjalankan ibadah haji sehingga aku hanya meninggalkan berkas dengan staf TU.

Sekolah kedua yang ku kujungi adalah sekolah yang pernah sparing dengan sekolahku semasa aku sekolah. Setelah masuk kantor dan bertemu dengan wakil kepala sekolah ternyata disekolah tersebut tidak kekurangan guru matematika. Tetapi berkas lamaran ku tetap diterima. Sekolah terakhir yang aku kunjungi adalah sekolah yang jarak tempuhnya kurang lebih hanya sepuluh menit dari rumahku (hihi yang paling dekat malah yang paling terakhir). Setelah bertemu dengan kepala TU dan hendak menemui kepala sekolah ternyata beliau sedang sibuk dan meminta agar ditinggal saja berkas lamarannya. Entah menolak dengann halus atau gimana hehehe yang penting aku sudah berusaha.

            Setelah mengunjungi tiga sekolah untuk melamar pekerjaan aku pun segera bergegas menuju rumah. Dalam perjalanan aku melewati sekolah menengah pertama. Sekolah itu adalah tempatku menimba ilmu. Namun aku tidak melamar pekerjaan disana karena ku pikir disana sedang tidak  membutuhkan guru matematika sehingga peluangnya sangat kecil untuk diterima bekerja disana.

            Hari berganti minggu namun panggilan kerjapun tak kunjung datang. Ah bagaimana ini, apakah Pak Ali (Kepala Sekolah tempatku menimba ilmu) sudah pulang dari ibadah haji? Apa aku akan diterima bekerja disana? Aahh pikiranku saat itu benar-benar kacau menanti panggilan kerja. Besar harapanku untuk bekerja disana.

***

            Malam ini aku susah tidur karena sedang sakit tenggorokkan batuk. Ayah dan adikku juga batuk. Sebelum tidur ayah meminum obat batuk dan menyarankan agar aku dan adik juga meminum obat batuk tersebut. Setelah aku meminum obat batuk tersebut aku merasa nyaman dan akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.

            Pagi harinya aku bersiap pergi ke kota untuk kuliah. Ibu menyiapkan sarapan dan bekal untuk aku bawa sedangkan adik menyiapkan kendaraan yang akan aku pakai dan ayah melayani pembeli yang ada di toko kelontong usaha keluargaku. Saat semua sudah siap, akupun berpamitan dengan ibu dan ayah.

Ibu berpesan “Jangan ngebut-ngebut ya kak, kalau sudah sampai cepat kabari ibu”

“ngebut asal fokus kan ga papa bu hehehe” jawabku sambil merayu ibu

“katanya kakak mau bawa obat batuk” tanya ayah sambil memberikan obat batuk

“o iya yah. Hampir lupa. Alhamdulillah ayah ingatin kakak”

            Setelah berpamitan aku pun bergegas untuk berangkat, lima menit perjalanan dari rumah aku kembali teringat obat batuk tadi, apakah sudah ku masukkan ke dalam tas atau belum ya? Tanyaku dalam hati. Aku pun berhenti ditepi jalan untuk mengecek obat batuk dalam tasku. Alhamdulillah ternyata obat batuknya tidak tertinggal. Aku pun segera melanjutkan perjalanan.

            Setelah satu jam perjalanan batukku kembali kambuh dan aku benar-benar tidak betah dengan kondisi ini. Aku pun berhenti ditepi jalan untuk meminum obat batuk yang ayah berikan kepadaku. Aah akhirnya aku merasa lega dan bisa melanjutkan perjalanan.

            Aku mimilih jalan pintas untuk sampai ke kota. Jalan pintas ini sepi dan hampir sepanjang jalannya dipenuhi hutan. Dua puluh menit perjalanan setelah aku meminum obat batuk aku merasakan kantuk yang sangat berat. Kali ini mataku benar-benar sulit di ajak kompromi. Aku benar-benar butuh kasur untuk melepaskan kantukku. Aku berusaha untuk tetap tenang mengendarai motorku dengan berdzikir. Sesekali mataku terpejam dan kembali tersadar. Aku ingin berhenti sejenak melepas lelah namun sepanjang jalan ini hutan sehingga tidak ada tempat untuk beristirahat. Aku pun memilih untuk terus melanjutkan perjalanan.

            Akhirnya aku hampir sampai di kota, alhamdulillah bisa sampai sini gumamku dalam hati. Aku melewati perumahan Vialen yang jalannya lurus dan mulus seperti jalan tol sehingga aku bisa menambah kecepatanku karena sudah sangat rindu dengan kasur wkwk.

Tanpa ku sadari mataku kembali terpejam dan aku tidak bisa mengendalikan motorku lagi. Tiba-tiba bbbrrrraaaakkkkkkk mataku tebuka dan aku tersadar dalam kondisi duduk ditepi jalan. aku menabrak pohon yang berada di tepi jalan. Allahu Akbar ternyata aku benar-benar jatuh. Tas ku pun terbuka dan buku yang ku bawa pun berjatuhan.

Seorang pengendara motor yang berada dibelakangku langsung berhenti dan menolongku. Aku berusaha untuk bangkit dan ingin melanjutkan perjalanan namun tubuhku terasa lemas. Ketika aku berusaha berdiri dan ingin mengemasi barang-barangku kaki kiri ku tak bisa ku angkat, aku tak bisa berdiri dan lututku tak bisa ku gerakkan. Astaghfirullahal ‘adzim ya Allah apa yang terjadi pada diriku ini, apa kaki ku ini patah?. Beberapa orang pengendara motor pun berhenti dan berusaha menolongku.

“apakah ada nomor telpon yang bisa kami hubungi mbak?” tanya seorang pengendara yang menolongku

“iya , ada mas” aku segera mencari handpone ku di tas. Aku ingin menelpon ayah dan ibu tapi takut mereka hawatir dengan keadaanku. Akhirnya aku menelpon pamanku yang tinggal di kota.

“Assalamu’alaikum, man. Aku kecelakaan”

“Wa”alaikumussalam, ya Allah. Dimana? Lalu keadaanmu gimana” Jawab paman keget

“kaki ku ga bisa digerakin, ga tau ini kenapa. Patah atau gimana aku ga tau. Paman bisa kesini? Aku di perumahan Vialen” jelasku dengan cemas dan bingung

“ayah dan ibumu gimana, mereka sudah tau?”

“belum man, aku ga berani telpon ayah atau ibu takutnya mereka khawatir”

“ya sudah, biar paman yang menelpon ayahmu. Kamu sekarang sama siapa? Paman segera kesana”

“iya man, ada beberapa orang yang menolongku dan mereka masih disini”

“ya sudah paman mau siap-siap untuk kesana ya”

Paman pun memutuskan telponnya. Tiba-tiba ada seorang satpam perumahan yang berhenti dan menanyakan apa yang terjadi. Satpam dan pengendara motor yang menolongku menyarankan agar aku dibawa ke pos satpam saja namun aku menolak karena aku ingin menunggu pamanku disini sajaselain itu kondisiku juga tidak memungkinkan jika harus duduk di motor.

Tilulittilulit terdengar suara handphone ku, ternyata ayahku yang menelpon. Suara ayah terdengar tenang ketika menanyakan apa yang terjadi. Ayah menyarankan agar aku dibawa ke tukang urut di daerah jalan pintas yang aku lewati tadi karena sebelumnya ayah juga pernah mengantar nenek ke tukang urut tersebut.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Paman datang menjemputku bersama bibi (istri paman) dan membawaku ke tukang urut yang disarankan ayah. Pengendara motor yang sejak tadi menemani dan menolongku pun membantu paman mengangkatku dan mengemasi barang-barangku ke mobil. Allahu Akbar ketika tubuhku diangkat aku merasakan sakit yang luar biasa. Aku hanya bisa menahan dan berteriak kesakitan. Ketika didalam mobil aku juga kesulitan mencari posisi yang nyaman agar kakiku tidak sakit. Alhamdulillah dalam mobil paman terdapat bantal yang bisa kupakai untuk menyanggah kakiku.

Sesampainya dirumah tukang urut ternyata ramai orang yang sedang berobat. Aku takut jika harus turun dari mobil akan merasakan sakit lagi. Akhirnya aku di urut didalam mobil. Tukang urut bilang kakiku tidak apa-apahanya lutut saja yang tergeser namun kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku? Ya Allah, kembali aku merasakan sakit ketika kakiku diurut. Allahu Akbar Astaghfirullahal‘adzim ya Allah sakit sekali.

Setelah selesai kakiku diurut, ayah pun tiba untuk menjemputku. Lagi-lagi aku harus diangkat untuk pindah ke mobil ayah. Ya Allah aku kembali merasakan sakit. Setelah aku pindah ke mobil ayah, kamipun segera bergegas pulang sedangkan paman dan bibi kembali ke kota.

Dalam perjalanan pulang aku memberi kabar kepada teman-teman kelasku karena tidak bisa kuliah hari ini. Mereka pun terkejut dan khwatir akan kondisiku namun aku segera menjelaskan bahwa aku tidak apa-apa hanya kaki saja yang sakit dan sekarang dalam perjalanan pulang kerumah.

“gimana ceritanya kakak bisa kecelakaan?” tanya ayah sambil menyetir mobil

“iya yah, kakak tadi nabrak pohon, rasanya ngantuk banget yah. Apa mungkin karena di perjalanan kakak minum obat batuk ya yah?”

“o iya kakak kan tadi bawa obat batuk, berarti kakak minum diperjalanan ya? Wajar saja kakak jadi ngantuk berat. Ga papalah bentar lagi juga sembuh kok”

Sesampainya dirumah, aku melihat wajah ibu dan adik yang khawatir dan cemas dengan kondisiku. Lagi-lagi aku harus diangkat untuk turun dari mobil dan kembali merasakan sakit yang luar biasa. Rumahku pun mulai ramai dipenuhi tetangga yang ingin melihat keadaanku.

Hari sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Ya Allah aku belum sholat zuhur, bagaimana ini. Ibu mengambilkan air dan baskom agar aku bisa berwudhu. Aku sholat dengan posisi duduk dan tidak menghadap kiblat karena sulit untuk merubah posisi dudukku. Ini adalah pertama kalinya aku sholat dalam posisi duduk, ya Allah betapa nikmatnya dulu aku bisa sholat dengan sebagaimana mestinya. Hal yang sangat jarang aku syukuri bisa beribadah dengan sebagaimana mestinya. Namun kondisi sekarang pun harus aku syukuri, masih bisa beribadah masih bisa memohon ampun dan masih diberi kesempatan untuk hidup karena bisa saja dalam kondisi mengantuk dan mengendarai motor  sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Malam ini adalah malam pertamaku tidur dengan kondisi kakiku yang tidak bisa digerakkan. Aku yang biasa tidur dengan posisi miring dan memeluk guling kini hanya bisa tidur dengan terlentang. Kini aku menyadari betapa nikmatnya tidur dengan berbagai posisi. Ya Allah... hal kecil yang nikmat sekali ini memang jarang aku syukuri. Ampuni aku ya Allah...

Keesokan harinya aku bersama ayah dan kakek kembali ke rumah tukang urut. Lagi-lagi aku harus diangkat untuk masuk mobil dan kembali merasakan sakit. Dalam mobil bagian belakang sudah disiapkan kasur untuk aku duduk sehingga aku bisa merasa nyaman dan tidak merasa sakit. Sesampainya di rumah tukang urut, tukang urut menyampaikan bahwa tulang pahaku patah. Aku meminta agar di urut didalam mobil saja karena aku takut merasakan sakit lagi. Akhirnya aku diurut di dalam rumah tukang urut agar hasilnya juga maksimal. Ayah menarik kakiku dan tukang urut mengurut dan membenarkan posisi tulangku yang patah. Alhamdulillah kali ini merasa lebih baik dan tidak merasakan sakit. Setelah di urut kakiku pun diperban agar posisi tulangnya tidak berubah dan kami pun kembali pulang ke rumah.

***

Satu bulan pasca kecelakaan aku belum bisa berdiri. Aku hanya bisa duduk dan terbaring dikamar. Ibu dan ayah selalu mengurus semua keperluanku. Ayah dan ibu seperti mempunyai anak bayi lagi. Bayi besar yang semua keperluannya harus disiapkan, mulai dari keperluan sholat, makan, hingga keperluan buang air besar. Aaaahh aku tak sanggup menatap wajah lelah ayah dan ibu, apalagi ibu yang mengurus rumah sendirian ditambah lagi harus mengurusi aku sibayi besar ini. Tak terasa air mataku pun mengalir, betapa besarnya pengorbanan mereka.

Tilulittilulit terdengar suara handphone ku, ternyata paman yang menelpon. Beliau mengabarkan bahwa bang Amrul sepupuku kecelakaan. Aku langsung memberitahu ibu dan ayah mengenaik kabar ini. Kukira bang Amrul hanya mengalami kecelakaan biasa lecet-lecet atau memar. Ternyata bang Amrul meninggal ditempat. Ya Allah betapa terkejut dan sedihnya aku. Ayah ibu dan adik segera bergegas kerumah duka, sedangkan aku hanya bisa mendoakan dari rumah. Air mataku pun mengalir dan menangis sejadi-jadinya.

Dalam kesendirian aku termenung dan teringat satu bulan lalu saat aku mengalami kecelakaan. Bagaimana jika nyawaku langsung diambil pada saat itu? Bagaimana jika keadaan yang lebih buruk menimpaku? Ya Allah Alhamdulillah Engkau masih meminjamkan nyawa ini. Semoga aku bisa menggunakan kesempatan ini dengan baik.

***

Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah pasca kecelakaan. Kondisiku yang belum pulih membuatku harus duduk dikursi roda. Alhamdulillah betapa senangnya aku bisa kembali kekampus dan berkumpul bersama teman-teman. Selama pembelajaran berlangsung, ayah dan adikku setia menunggu dimobil. Jarak tempuh dari rumah ke kampus membuat kami harus pulang tengah malam. Aaahh ini bukan aku yang berjuang tapi ayah. Ayah yang siap siaga menggendongku dari mobil ke kursi roda dan menyetir hingga tengah malam.

Keesokan harinya aku mulai berlatih berjalan menggunkan dua tongkat. Pertama kali aku menginjakkan kaki pasca kecelakaan benar-benar terasa berbeda. Permukaan lantai yang datar terasa cekung dan seakan bisa menggelinding seperti permukaan bola. Namun aku tak patah semangat untuk terus berlatih berjalan, keluarga dan sahabatku pun selalu memberiku semangat.

***

Tiga bulan pasca kecelakaan aku sudah terbiasa berjalan dengan bantuan satu tongkat. Alhamdulillah untuk pertama kalinya pasca kecelakaan aku bisa sholat dengan posisi berdiri. Ya Allah hatiku benar-benar meleleh, bahagia bercampur haru semuanya menjadi satu. Sujud yang selama ini aku rindukan bisa ku lakukan lagi. Aku seperti mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubunganku dengan Allah. Ya Allah...Betapa lalainya aku selama ini dari rasa bersyukur.

***

Semenjak aku berlatih berjalan menggunakan tongkat, aku lebih sering duduk ditoko sambil membantu ibu melayani pembeli. Hari sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB menandakan waktu pulang anak sekolah. Tiba-tiba Pak Dani dan Bu Yuni mampir ke toko dan menanyakan kondisiku. Hal yang tak pernah kusangka pun terjadi.  Pak Dani dan Bu Yuni menawarkan aku untuk mengajar disekolah yang beliau pimpin. Pak Dani dan Bu Yuni merupakan sepasang suami istri, Pak Dani menjabat sebagai kepala sekolah sedangkan Bu Yuni menjabat sebagai wakil kepala sekolah sweet banget yaaa hihihi

Aku benar-benar tidak menyangka mendapat tawaran mengajar di sekolah menengah pertama tempatku menimba ilmu yang sebelumnya tidak ku ajukan lamaran pekerjaan. Masya Allah  bahagia bercampur haru semuanya menjadi satu. Allah Maha Baik dan selalu memberi takdir terbaik kepada hamba-Nya.

Aku seperti menjalani kehidupan baru. Menjalani kehidupan sebagai seorang guru sembari menyelesaikan study magisterku. Kehidupan yang dulu aku semogakan kini ada didepan mata. Alhamdulillah terimakasih ya Allah.

 

***

Sekian purnama berlalu, aku lewati hari-hari sebagai seorang guru  dan sebagai seorang mahasiswa. Keseharian ku tidak terlepas dari alat bantu untuk berjalan. Kondisi ini tentu lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi ketika aku hanya terbaring di kamar. Setiap hari aku juga berlatih untuk berjalan tanpa menggunakan alat bantu. Perjuangannya tentu tidak mudah, seringkali aku bertemu dengan orang-orang yang bertanya kenapa kakiku belum sembuh juga. Yaahh... mereka terlalu baik dan terlalu peduli kepada ku, tetapi entah kenapa terkadang hati ku tersayat karena seolah menyalahkan aku kenapa belum sembuh juga. Ya Allah kuatkan akuuuu ;(

Waktu berlalu dan alhamdulillah aku bisa berjalan tanpa alat bantu. Lagi-lagi meski tak seperti semula tetapi ini sungguh lebih baik dibandingkan ketika aku hanya terbaring di kamar. Dan lagi-lagi pasti ada saja yang membuat ku iba. Cara berjalanku memang tak seperti mereka yang sehat, dan sungguh aku bukan sengaja untuk mau dikondisi ini, tapi tatapan sinis dan perkataan orang-orang terkadang membuat hati ku tersayat. Aku sangat butuh dikuatkan, bukan ditanya-tanya dan disalahkan. Terkadang aku juga bertanya-tanya, apakah kondisi ini menyakiti orang-orang sampai mereka menatapku dengan sinis dan jijik. Ya Allah kuatkan akuuu ;(.

Setiap harinya aku terus belajar untuk ridho terhadap takdir ini. Berusaha untuk menerima ketetapan Allah, Allah pasti punya rencana luar biasa dibalik semua ini. Mungkin bukan di dunia, tapi mudah-mudahan di akhirat. Kehidupan dunia ini hanya sebentar, ayolah kuatkan kesabaran sebntar saja sampai Allah bilang waktunya pulang. Amalku memang tidak banyak semoga dengan semua ini Allah  hadiahkan ampunan dan rahmat-Nya. Aamiin..

Ini benar-benar kesempatan kedua yang Allah berikan, bisa saja Allah langsung ambil nyawaku dalam kecelakaan itu. Tapi Allah Maha baik, memberi kesempatan untuk memperbaiki semua yang belum baik. Alhamdulillah...

                                     -SEMOGA BERMANFAAT-

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ignorance About The Future

Stay On Track